 |
|
07-26-2010 Indonesia - Training on Handling Stress and Trauma for War Journalists, July 16-22,2010 |
| Print |
|
E-mail
|
| STRESS???... RELAKS AJA.. by Fajar Iqbal (find the English translation below) Udara sejuk Kaliurang akhirnya mempertemukan kami kembali – para pecojoners – dalam pelatihan yang berbeda dari pelatihan-pelatihan PECOJON sebelumnya. Biasanya,... pelatihan PECOJON yang diberikan oleh Antonia Koop mengajak kami berdiskusi tentang cara pandang kita akan jurnalisme dan bagaimana peran jurnalis dalam menghadapi dan memberitakan konflik . Atau bagaimana kami menyiapkan pelatihan jurnalisme sensitif konflik sebagaimana yang terjadi di PJ 3. Pelatihan Stress and Trauma Healing memang berbeda dari pelatihan PECOJON yang lain. |
Tidak ada diskusi dan perdebatan yang menguras energi. Tidak ada ‘ketegangan’ yang harus dibahas. Pada pelatihan ini, para jurnalis diajak untuk memahami dan berlatih mengatasi stress yang dihadapi dalam tuntutan pekerjaan yang sulit untuk dihindari. Tidak bisa dipungkiri bahwa pekerja pers sesungguhnya senantiasa berada dalam kondisi tertekan akan tugas-tugasnya. Bahkan sebagian stress yang dialami oleh para jurnalis itu telah meningkat jadi trauma yang menghantui kehidupan mereka. Untuk pelatihan yang diberi kode PJ 2.5 ini kami dibersamai oleh Matthias Witzel, seorang psikiater yang telah banyak memiliki pengalaman mengatasi stress dan trauma pada banyak orang dan banyak tempat. Namun bagi Matthias sendiri, pelatihan ini adalah kali pertama ia memberikannya di Indonesia.
Matthias yang menjadi fasilitator pada pelatihan ini mengingatkan bahwa efek dari stress dan trauma yang dialami para jurnalis – sangat mungkin – dampaknya baru akan dirasakan sekitar 15 – 20 tahun kemudian. Awalnya memang dirasa ringan-ringan saja. Merokok, minum kopi, minum-minuman beralkohol, atau kecanduan akan sesuatu hal menjadi penyaluran untuk mengatasi stress yang dihadapi. Seiring dengan waktu, dosis yang lebih besar biasanya akan digunakan dan ditingkatkan. Sayangnya, banyak penderita stress menyalurkan rasa tertekannya dengan hal-hal yang cenderung tidak sehat bagi diri mereka sendiri.
Stress sendiri bukanlah persoalan yang simpel atau sederhana. Stress berawal dari adanya tekanan yang bersifat intensif dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Ketika seseorang memaknai tekanan tersebut sebagai sesuatu yang positif atau bisa diatasi, maka ia akan bersikap relax. Tetapi jika ia memaknai persoalan tersebut secara negatif maka ia akan merasa sangat tertekan. Perasaan tertekan terjadi karena ia sulit untuk berdamai dengan situasi yang dihadapinya. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh kurangnya kemampuan penderita stress di dalam mengatasi persoalannya. Ia tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan agar persoalan yang dihadapinya teratasi. Pada tahap ini, terjadilah apa yang disebut dengan keadaan sangat stress (very stressfull).
Untuk menghindari pelaku stress melakukan tindakan yang lebih buruk, Matthias mengajarkan dan melatih sejumlah cara untuk melakukan relaksasi. Misalnya saja dengan menggerak-gerakkan badan sesuai dengan irama tertentu dan memusatkan pikiran dengan mengendurkan berbagai urat syaraf. Mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tetapi, didasar itu semua, kunci dari relaksasi adalah dengan mengatur nafas sedemikian rupa sehingga nafas yang ditarik melalui hidung dan dikeluarkan melalui mulut bergerak secara sinkron dengan irama detak jantung. Duff..dakh..duff..dakh..duff..dakh begitu kata Matthias.
Puncak acara latihan bersama Matthias terjadi pada malam ketiga, ketika seluruh peserta diajak untuk melakukan meditasi, menenangkan diri, hingga berbaring agar seluruh mental dan fisiknya bisa relaks. Kemudian, ia mengajak semua peserta untuk berbagi atas pengalaman meditasi masing-masing. Sejumlah peserta bahkan sampai menangis ketika menceritakan pengalamannya. Ada yang merasa melayang, ada yang merasa melihat bayang-bayang masa lalunya, ada yang merasa melihat cahaya, sangat relatif dan bervariasi bagi setiap orang. Keesokan harinya, semua peserta hadir di meja makan untuk sarapan pagi dengan wajah dan perasaan sangat relaks.
Selain mengajari relaksasi di dalam ruangan, Matthias juga mengajari relaksasi di ruangan terbuka. Candi Borobudur menjadi tempat yang dipilih dalam hal ini. Bukan sekedar untuk berwisata tetapi lebih daripada itu, tempat untuk berrelaksasi dan bermeditasi. Tentu saja semua peserta menyambut antusias acara tersebut. Hampir semua peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merelaksasi diri masing-masing.
Empat hari empat malam akhirnya berlalu. Tak terasa pelajaran dan latihan dari Matthias– akhirnya – sampai diujung acara. Semua peserta merasa begitu banyak mendapatkan pelajaran bagi diri mereka. Setidaknya mereka tahu bagaimana mengatasi berbagai beban dan tekanan pekerjaan dalam meliput tugas-tugas kewartawanan yang mereka hadapi.
Terima kasih Matthias....
Pontianak, 26 Juli 2010 Stress? Just be relaxed The cold air of Kaliurang resort gathered us – the PECOJONers (the name that many members of PECOJON Indonesia call themselves) – together in a training that was different from the ones that they previously experienced.
This is not the one that Antonia Koop facilitates, where participants are required to discuss about journalism and how they perceive the role of journalists in a conflict situation, or where they are required to design Conflict Sensitive Journalism (CSJ) trainings like when they join a PJ3 course. There were no energy-consuming debates at the Stress and Trauma Healing course. No ‘tension’ needed to be discussed. Participants were asked to understand and trained to deal with the unavoidable, stressful works as journalists who were always under pressure. Some had even transformed the stressful works into traumatic experience that haunts their lives.
Matthias Witzel, German psychiatrist experienced in helping people deal with stress and trauma, facilitated the five-day course, the first that Witzel ever facilitated in Indonesia. Witzel reminded the participants that the impacts of stress and trauma experienced by journalists could be felt only after 15 to 20 years. At first it is manifested into habits such as smoking, drinking coffee or alcoholic drinks, or addicted to something that could channel their stressful feeling.
“Later it can grow into bigger and bigger manifestations that are mostly unhealthy or even self destructing,” Witzel said. Stress is not simple, he said. It started with intensive pressure both from outside and inside a person. When the person understands pressure as something positive that he/she can handle, then the person becomes relaxed. When the person perceives so as negative, on the contrary, he/she will be very stressful.
“The stressful feeling is there because he/she finds it difficult to make peace with the situation he/she has to deal with,” Witzel said. This, according to Witzel, may due to lack of capability of the sufferer to deal with the stressful condition. He/she has no skill needed to deal with the condition. In this stage he/she is experiencing the so-called very stressful condition.
To help participants avoid committing bad acts, Witzel provided them with some relaxation practices. Among others include moving the bodies according to particular music or focusing the mind while relaxing ones’ nerves up from the head down to the finger tips. “On top of that, the key of relaxation lays on how to manage the breaths in such a way so that the ones inhaled through the nose and the others exhaled through the mouth can synchronically match with the heart beats,” Witzel said.
The peak of the training was on the third evening, when Witzel took all the participants to meditate, calming and relaxing themselves both mentally and physically by lying down on the floor. He then asked them to share their meditating experience within the group. Some broke into cry as they share their stories. A participant said he felt like flying when meditating. Another said she saw the shadows of her past while others admitted to have seen some lights. Each told different stories about what they experienced during the meditation.
The session last until almost midnight. Surprisingly, however, all of the participants appeared very fresh the following morning as they were enjoying breakfast together before they departed for Borobudur Temple in the neighboring town of Magelang, Central Java. Here Witzel told participants to experience relaxation practices in open air.
As the course was finally closed the same day in the afternoon, most of the participants agreed that the training was useful. It helps them better know how to deal with the stressful works they face in their daily activities as journalists.
“Thank you Matthias,” they said.
(by Fajar Iqbal, translation and editing by Sri Wahyuni) |
|